Minggu, 26 Oktober 2014

Sintang- Kalimantan Barat

Ini kali keduaku datang di Sintang-Kalimantan Barat bagian timur, dan kedatangan saat ini akan punya cukup waktu untuk menjelajah kekayaan Indonesia di pulau Kalimantan. Sintang merupakan wilayah pertemuan sungai Kapuas dan sungai Melawi, dahulu orang menyebut senentang (pertemuan dua sungai) namun lama kelamaan menjadi sintang. Wilayah yang berdekatan dengan sungai sangat berkaitan dengan “ikan”, ikan merupakan lauk yang sangat digemari di Sintang terutama ikan sungai bahkan ikan laut tidak terlalu disukai.
Hari Sabtu 2 Juni 2012 aku berkesempatan jalan-jalan di pagi hari untuk melihat kota Sintang, tanpa disadari jalan yang kuselusuri memasuki pasar kota Sintang. Ada yang menarik perhatian, banyak sekali jenis-jenis ikan sungai yang dijual di pasar dan banyak dalam keadaan hidup.

Figure 1. Senentang (pertemuan sungai Melawi (air warna coklat) dan sungai Kapuas), sungai Melawi memasuki sungai Kapuas dan menjadi anak sungai Kapuas
Ikan Toman
Ikan toman merupakan sejenis ikan gabus yang khas dari danau Sentarum, danau Sentarum terletak di wilayah hulu sungai Kapuas. Biasanya anakan ikan ini akan dibawa ke wilayah sintang dan dibesarkan dalam karamba di sungai Kapuas. Ikan ini sangat digemari oleh penduduk setempat. Ikan toman bisa juga dibuat menjadi ikan asin dan kerupuk dengan harga jual yang cukup mahal yaitu Rp. 45.000/kg.



Figure 2, 3, 4: Ikan Toman, ikan asin toman dan kerupuk ikan toman

Ikan Lais
Ikan lais merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak terdapat di wilayah sungai Kapuas dan anak sungai Kapuas. Menurut penduduk setempat Ikan Lais ada beberapa jenis salah satunya adalah lais Kapuas dan lais lubuk (anak sungai Kapuas). Dari dua jenis itu jika dilihat warnanya maka Lais Kapuas sedikit cerah dan putih dibandingkan lais lubuk yang sedikit gelap dan kemerahan, walaupun bagi orang awam pasti akan melihat sama saja bentuk dan warnanya. Lais lubuk tidak pernah dijumpai di sungai Kapuas begitu juga dengan lais Kapuas. Dan lais Kapuas bisa menjadi besar sedangkan lais lubuk akan tetap kecil-kecil.


Figure 5 & 6: Lais lubuk dan lais Kapuas
Ikan lais dapat dinikmati baik ikan segar atau dalam bentuk awetan. Bentuk awetan ikan lais yang cukup populer adalah ikan asin dan ikan Salai (ikan asap).


 Figure 7 & 8: Ikan asin dan salai lais

Ikan Baung/Ikan Patin/Benga/Tapak
Ikan Baung dan patin di Jawa memang sudah terkenal, ikan baung dapat di temui di sungai-sungai dan ikan patin banyak dibudidayakan. Di Sintang ada keunikan sendiri, patin dan baung sama-sama hidup di sungai walaupun ada yang sudah membudidayakan di kolam, dan dari keterangan penduduk setempat patin dan baung merupakan jenis yang sama, namun jika masih kecil namanya ikan PATIN namun jika sudah besarnya sedang namanya IKAN BAUNG dan jika besar yang ditemukan di sungai namanya ikan BENGA (hiu sungai) namun jika sudah besar sekali namanya TAPAK. Ikan ini banyak dimasak gulai dan kuah asam. Ikan yang dijual kebanyakan masih hidup dan khusus ikan benga harus diikat supaya tidak lepas karena cukup berbahaya, sedangkan ikan Tapak cukup ditakuti karena menurut informasi bisa memakan manusia.

Figure 9: Ikan Baung (patin besar)

Figure 10: Ikan Patin

Figure 11: Ikan Benga

Ikan Jelawat
Jenis ikan lain yang cukup populer adalah ikan jelawat. Ikan Jelawat mempunyai tekstur daging yang lembut dan sering dimasak dengan sistem tim atau kukus.

Figure 12: Ikan Jelawat

Ikan labau/Tengadak/tengalat
Ikan ini mirip dengan ikan jelawat namun tidak amis, penduduk setempat biasanya dikukus. Bahasa melayunya adalah labau atau tengalat namun bahasa dayaknya adalah tengadak.


Figure 13 & 14: Ikan Labau dan Tengalat

Ikan Gurame Sungai
Ikan gurame merupakan ikan yang umum yang bisa ditemukan dimanapun, namun ikan gurame yang ditemukan di sungai akan sangat sulit dijumpai. Disungai Kapuas ikan gurame dapat besar seperti ikan gurame yang dipelihara di kolam di Jawa atau di wilayah lain dan banyak ditemukan di sekitar sungai Kapuas.

Figure 15: Ikan Gurame sungai

Ikan sluang
Ikan sluang merupakan jenis ikan kecil dan kebanyakan dibuat menjadi awetan seperti ikan asin dan sale, jarang ditemukan dalam bentuk segar musiman banjir atau pasang.


Figure 16 & 17: Ikan sale dan asin sluang

Ikan Lele
Ikan Lele banyak dijumpai dimanapun, begitu juga di sungai Kapuas ikan lele sangat mudah didapatkan dan banyak juga dibudidayakan oleh masyarakat setempat.


Figure 18 & 19: Ikan Lele besar dan kecil

Ikan Tilan
Ikan ini kurang disukai karena kurang enak dan bentuknya menurut pendapat penduduk jelek karena punya mulut panjang, sehingga lebih banyak dibuat ikan asin.

Figure 20: Ikan Tilan

Belut Sungai
Sungai Kapuas dan anak sungai Kapuas merupakan surga bagi ikan air tawar, namun menurut keterangan penduduk setempat ikan sudah tidak sebanyak dahulu. Berkurangnya populasi ikan bisa disebabkan karena banyaknya polusi di sekitar sungai baik dari limbah-limbah pabrik ataupun habitat yang mulai berubah karena penebangan hutan. Hal lain yang menyebabkan berkurangnya jumlah dan jenis ikan adalah penangkapan ikan yang tidak selektif, dahulu menangkap ikan menggunakan pancing atau jaring, namun sekarang menggunakan racun/tuba/bahan kimia lain serta memakai strom (accu) khususnya di sungai-sungai kecil sehingga semua ikan dari segala ukuran dan jenis banyak yang mati. Pertanyaan saat ini jika semua praktek diatas terus berlanjut “apakah sungai Kapuas dan anak sungai Kapuas di Kalimantan Barat akan selalu menjadi surga bagi ikan?”

Figure 21: Belut sungai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar